Saturday, May 23

Eugenics : Teori paling ngeri

siapa yang tak tau Adolf Hitler. Diktator  berkumis 1/3 ini bersama para pendukungnya meneror benua Eropa  di Perang Dunia II, dan tak segan membasmi jutaan orang demi mencapai tujuannya, dominasi “master race” di atas segala bangsa.

Eits, master race ini bukan berarti ahli balapan lho! Google translate kadangkadang suka ngaco deh. Master race yang dimaksud Hitler berarti ras paling unggul, yang menurut Hitler adalah ras Arya atau Nordik, yang memiliki ciri utama rambut  pirang, mata biru dan kulit putih.  

Bukan cuma beranggapan bahwa ras Arya adalah ras terbaik yang layak menguasai dunia, Hitler dan pendukungnya juga berpandangan bahwa ras lain adalah ras rendahan, ras yang gagal dalam bervolusi, sehingga harus dimusnahkan karena keberadaannya hanya akan menghambat evolusi menjadi manusia sempurna. Dengan dilandasi pemikiran itu rezim Nazi Hitler membantai jutaan orang  dari berbagai etnis, termasuk juga para penyandang cacat dan penderita keterbelakangan mental.

Sadis ya… Tapi, fakta yang tak banyak diketahui adalah konsep master race bukanlah asli pemikiran Hitler. Justru Hitler terinspirasi dari pemikiran eugenics yang berkembang lebih dahulu di Amerika, puluhan tahun sebelum Hitler berkuasa!  Nah lho!

Eugenics pertama kali dicetuskan oleh Francis Galton, sepupu Charles Darwin,  pada tahun 1883. Menurut Galton, bila seorang yang berbakat menikah dengan orang yang berbakat pula, maka keturunan mereka akan jauh lebih baik.

Jadi menurut teori eugenics, kualitas sifat genetis manusia bisa ditingkatkan dengan meningkatkan reproduksi antara manusia yang memiliki sifat genetis yang baik (eugenics positif), atau dengan mengurangi reproduksi orangorang yang memiliki sifat genetis yang tidak diinginkan (eugenics negatif), bahkan bila perlu dengan pemandulan orang-orang  tersebut agar mereka tak bisa menghasilkan keturunan sama sekali.

Namun ternyata batasan  eugenics positif dan negatif itu sangat bias dan  subjektif. Sifat genetik yang baik menurut pengusung eugenics bukan sekedar badan yang sehat dan kuat, tapi juga kulit putih, rambut pirang dan mata biru.

Peranakan lain yang tidak memenuhi kriteria ini dianggap ras KW. Sementara itu, kelainan mental, cacat, bahkan termasuk tingkah laku dan kemiskinan, dianggap sebagai sifat genetis, yang hanya bisa diberantas dengan mencegah mereka yang dianggap memiliki sifat negatif itu melahirkan keturunan.  Pemikiran rasis ini berkembang di kalangan borjuis Inggris dan kemudian menyebar hingga ke Amerika.

Di Amerika yang memang sudah rasis duluan, ide ini pun berkembang bahkan didanai oleh para konglomerat seperti Carnegie Institution dan Rockefeller Foundation. Meskipun rasis, dengan dukungan dana dari para kapitalis, Eugenics menjadi sebuah disiplin akademis di banyak perguruan tinggi dan universitas ternama seperti Stamford, Yale, Harvard, dan Princeton.

Pemikiran Eugenics bahkan semakin menguat ketika mendapat pembenaran dari otoritas gereja. Tak butuh waktu lama, pemikiran eugenics mempengaruhi kebijakan negara di Amerika. Satu demi satu negara-negara bagian Amerika Serikat menerapkan pembatasan pernikawinan, sterilisasi (pemandulan) paksa, pemisahan rasial dalam koloni-koloni, dan bahkan euthanasia. Iya, pembunuhan masal.

Solusi ini diusulkan oleh Carnegie Institute pada tahun 1911. Cara yang banyak direkomendasikan adalah dengan kamar gas. Namun ternyata para pengusung Eugenics beranggapan bahwa Amerika belum siap memasuki tahap itu, sehingga mereka menerapkan program euthanasia  itu dengan cara yang lebih “halus”. Contohnya, rumah sakit jiwa di Lincoln, Illinois, memberi susu yang mengandung tubercolosis kepada calon pasiennya, dengan anggapan bahwa orang yang memiliki sifat genetis yang unggul pasti bisa bertahan hidup. Gila.

Setelah mapan di Amerika, eugenics disebarkan ke Jerman, terutama oleh pengusung eugenics dari California. Berbagai jurnal dan  literatur dari California ini kemudian mengispirasi Nazi Jerman untuk menerapkan hal yang sama. Bahkan beberapa program Eugenics di Jerman didanai oleh Rockefeller, termasuk penerima dana itu adalah Josef Mengele, dokter gila yang terkenal dengan berbagai eksperimennya yang kejam.

Kamar gas yang diusulkan di Amerika, Nazi Jermanlah yang pertama kali menerapkannya.  Pada puncak poularitasnya, ide ini didukung oleh tokoh-tokoh dunia seperti Winston Churchill, H. G. Wells,  Theodore Roosevelt, Herbert Hoover, George Bernard Shaw, John Maynard Keynes, dan lain-lain. Setelah Perang Dunia 2 dan terkuaknya kekejaman Nazi, peminat ide ini pun merosot. Dengan semakin berkembangnya ilmu biologi dan kedokteran, terbukti bahwa eugenics ternyata hanyalah pseudoscience, alias ilmu semu yang diklaim ilmiah, padahal jauh dari scientific, malah bikin ngeri dan jijik! []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *