Saturday, May 23

Fika Monika Komara : mewaspadai pergaulan bebas

Driser bulu kuduk kita berdiri bukan karena enggak kebagian duduk, tapi ngeliat kejahatan seksual yang  tengah menjadi headline media massa. Parahnya, itu menimpa dunia remaja. Baik sebagai korban hingga pelaku. Emang bukan pertama kali kasus kejahatan seksual yang menimpa remaja. Tapi tragedi yang menimpa Yuyun di Bengkulu, seolah menggedor kesadaran masyarakat. Hingga melahirkan kampanye di sosial media dengan hashtag #NyalaUntukYuyun. Untuk itu, kali ini drise coba kupas kejahatan seksual remaja dalam sudut pandang Islam bersama Ustadzah Fika Komara, pemerhati masalah wanita termasuk remaja putri. Yuk kita simak obrolannya!  

Ustadzah, belakangan ini marak pemberitaan tentang kejahatan seksual yang menimpa perempuan dan anak-anak. Bahkan pelakunya masih kategori remaja. Bagaimana tanggapan ustadzah?

Ya ini persoalan sangat luar biasa memprihatinkan, harus kita harus mengakui bahwa ada masalah serius yang menjangkiti mental masyarakat kita, lebih khususnya anak-anak kita, generasi muda kita. Bukan waktunya lagi kita hanya menyalahkan pelaku kejahatan, karena ternyata sebagian pelakunya juga anak-anak kita sendiri.

Kian hari kok makin mengerikan ya Ustadzah. Apa sih pemicunya?

Pemicunya jelas adanya semacam “wabah seksualisasi” yang secara terus menerus menyerbu mental kaum muda, yang didukung oleh industri hiburan dan media – dan ini secara masif merusak anakanak kita, laki-laki dan perempuan! Wabah  ini jelas telah menjadikan anak-anak perempuan sebagai objek komoditas  seksual dan secara mengerikan perlahan tapi pasti telah mengubah mental anakanak laki-laki kita layakya predator seksual. Mengerikan!

Beberapa pelaku dianggap masih di bawah umur. Sebenarnya bagaimana sih Islam memandang?

Islam jelas memandang ini sebagai bencana dan bahaya yang luar biasa, rusaknya generasi berarti rusaknya peradaban. Benarlah perkataan Imam al Ghazali :

“…jika anak dibiasakan berbuat jahat dan dibiarkan begitu saja seperti membiarkan binatang ternak, maka ia akan sengsara dan binasa. Dosanya pun akan dipikul oleh orangtua dan walinya

Promosi nilai-nilai kebebasan sekuler telah mengantarkan anak-anak kita pada gerbang kebinasaan. Mereka yang seharusnya menjadi generasi pembangun masa depan, telah binasa masa depannya karena menjadi pelaku sekaligus korban kriminalitas rendahan.

Pemerintah katanya hendak memberikan hukuman kebiri bagi pelaku. Mohon tanggapannya.

 Hukuman kebiri bukan berasal dari Islam. Syariah Islam dengan tegas telah mengharamkan kebiri pada manusia, tanpa ada perbedaan pendapat (khilafiyah) di kalangan fuqaha. Dari Ibnu Mas’ud RA, dia berkata: ”Dahulu kami pernah berperang bersama Nabi SAW sedang kami tidak bersama isteri-isteri. Lalu kami berkata (kepada Nabi SAW),’Bolehkah kami melakukan pengebirian?’ Maka Nabi SAW melarang yang demikian itu.” (HR Bukhari no 4615; Muslim no 1404; Ahmad no 3650; Ibnu Hibban no 4141).

Bagaimana hukuman yang adil bagi pelaku dalam kacamata Islam untuk kejahatan seksual?

Solusi mencegah wabah seksualisasi ini hanyalah dengan menerapkan Syariah Islam Kaffah, bukan hanya aspek uqubat (system sanksi) saja. Penerapan hukuman tegas seperti kebiri yang banyak diwacanakan – selain tidak Islami juga tidak akan menyelesaikan masalah karena akar masalahnya jauh lebih mendasar, ini menyangkut juga eksisnya system-sistem lain seperti media yang permisif terhadap konten pornografi, industry hiburan yang terus mempromosikan nilai kecantikan sensual pada wanita, serta system pendidikan kita yang kian sekuler dan gagal mencetak mental generasi muda yang berintegritas.

Apa yang bisa kita lakukan untuk andil dalam perubahan masyarakat, apalagi kami kan masih remaja?

Kembalilah mendekat pada Islam, temukan jatidirimu sebagai Muslim, sadari bahwa kalian adalah pewaris peradaban emas dan keturunan pahlawan dunia, bukan semata anak muda yang “ikut arus” karena takut dianggap kurang gaul

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *