Sunday, May 24

Islam Memuiakan Wanita

Wanita itu mulia. Bukan basa basi lho. Tapi memang kenyataannya  seperti itu. Kemuliaan wanita tercermin dari perannya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Nggak ada yang bisa membalas ketulusan seorang ibu dan kasih sayangnya terhadap anak.

Tugasnya nggak gampang untuk membina anak-anak mereka, menggelorakan semangat mereka, menanamkan kepada mereka kecintaan kepada Allah, Rasul dan al-Quran serta menempa kepemimpinan mereka. Dari sinilah bakal lahir generasi umat terbaik. Makanya, Islam peduli banget dengan kedudukan seorang wanita.  Baginda Nabi saw. bersabda,

“Sesungguhnya orang yang terbaik di antara  kalian adalah yang paling baik perlakuannya terhadap istrinya.  Aku adalah yang terbaik perlakuannya terhadap istri di  antara kalian.” (HR at-Tirmidzi dan Ibnu Hibban).

Pernah ada seorang sahabat berkata kepada Rasulullah, “Ya, Rasulullah, saya hendak ikut berperang.” Beliau lalu bertanya, “Apakah kamu punya ibu?”  Dia menjawab, “Ya.” Beliau pun segera bersabda, “Tetaplah bersama ibumu karena surga itu ada di bawah kedua kakinya.” (HR an-Nasa’i, hadis hasan shahîh).

Selain sebagai ibu dan pengatur rumah tangga, wanita juga punya hak untuk berperan di luar rumah.  Dengan keahliannya, wanita bisa terjun dalam bidang pertanian, industri, bisnis, pendidikan, kesehatan, dakwah, partai, dan sebagainya. Pada zaman Nabi saw., kemah Rufaidah al-Aslamiyah merupakan rumah sakit pertama yang dibangun pada zaman Rasulullah saw. Kemah ini dibangun oleh seorang perempuan bernama Rufaidah binti Kaab al-Aslamiyah.

Beliau mempunyai ilmu pengobatan dan telah mewakafkan dirinya untuk membantu umat Islam yang memerlukan, terutama bagi para tentara yang mengalami cedera pada saat pertempuran.  Pekerjaan beliau dibantu oleh beberapashahabiyah lain. Khilafah, kepala negara Islam, pun memberikan jaminan bagi perempuan di tempat umum. Seperti Khilafah tercatat dengan baik dalam sejarah. Sebut saja Syifa binti Sulaiman yang pernah diangkat oleh Khalifah Umar ra.

Sebagai qadhi hisbah (hakim yang mengurusi pelanggaran  terhadap peraturan yang membahayakan hak masyarakat). Perempuan mendapat hak yang sama dengan laki-laki tanpa harus mengembor-gemborkan ide emansipasi. Dalam pendidikan, Rasulullah saw. mengabulkan permintaan hari khusus bagi para perempuan untuk belajar dari beliau.

Aisyah ra. dan istri-istri Rasulullah saw. mengajarkan agama kepada para sahabat.  Ash-Shiwa binti Abdullah pernah bertugas sebagai guru yang mengajar wanita-wanita Islam membaca dan menulis ketika Baginda Nabi Muhammad saw. masih hidup.  Pada masa Kekhilafahan telah didirikan sekolahsekolah khusus perempuan yang terkenal  dengan kemajuan ilmu dan teknologinya. Salah satunya, Universitas khusus kaum hawa di Puncak Gunung Fasiyun, Damaskus yang didirikan oleh Rabi’ah Khatun binti Ayyub.

Bahkan Raja Inggris pernah mengirim putri-putri Kerajaan untuk bersekolah di Negara Khilafah. Perlindungan dan penjagaan kehormatan perempuan oleh Negara Khilafah telah banyak dibuktikan dalam sejarah pemerintahan Islam. Tidak dijumpai pada masa Khilafah berbagai tindak kekerasan dan pelecehan, apalagi kepada perempuan.  Ketika  seorang Muslimah berbelanja di pasar Bani Qainuqa, seorang Yahudi mengikat ujung pakaiannya tanpa dia ketahui sehingga ketika berdiri aurat perempuan tersebut tersingkap diiringi derai tawa orang-orang Yahudi di sekitarnya.

Perempuan  tersebut berteriak. Kemudian salah seorang Sahabat datang menolong dan langsung membunuh pelakunya. Namun kemudian, orang-orang Yahudi mengeroyok dan membunuh Sahabat tersebut. Ketika berita ini sampai kepada Nabi Muhammad saw., beliau langsung mengumpulkan tentaranya. Pasukan Rasulullah saw. mengepung mereka dengan rapat selama 15 hari hingga akhirnya Bani Qainuqa menyerah karena ketakutan.  

Begitu juga yang terjadi pada masa Khalifah al-Mu’tashim Billah berkaitan dengan pembelaan Khilafah terhadap kehormatan perempuan. Ketika seorang  perempuan menjerit di Negeri Amuria karena dianiaya dan dia memanggil nama Al-Mu’tashim, jeritannya didengar dan diperhatikan. Dengan serta-merta Khalifah al-Mu’tashim mengirim surat untuk Raja Amuria “…Dari Al Mu’tashim Billah kepada Raja Amuria. Lepaskan wanita itu atau kamu akan berhadapan dengan pasukan yang kepalanya sudah di tempatmu sedang ekornya masih di negeriku. Mereka mencintai mati syahid seperti kalian menyukai khamar…!

”Singgasana Raja Amuria bergetar ketika membaca surat itu. Lalu perempuan itu pun segera dibebaskan. Kemudian Amuria ditaklukan oleh tentara kaum Muslim.  Driser, demikianlah sekelumit gambaran ketika syariah Islam diterapkan oleh negara bakal membawa keberkahan dan ketinggian kehormatan bagi perempuan.

Jadi nggak ada ceritanya kampanye emansipasi yang digawangi kaum feminis untuk menyuarakan persamaan hak perempuan. Itu cuman rekayasa musuh Islam yang malah bikin kaum hawa terhina, kedudukannya dilecehkan dan melupakan perannya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Catet![]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *