Tuesday, July 14

Kelaparan Paling Memilukan

Pada isaran tahun 1943-44, lebih dari 3  juta orang meninggal karena kelaparan dan malnutrisi di provinsi Bengali, India. Walaupun paceklik memang sering terjadi di India karena pengaruh angin musim (monsoon), tragedi Bengali ini dianggap sebagai bencana kelaparan terburuk di abad 20.

Tragedi memilukan ini diakibatkan oleh perbuatan dan keserakahan manusia penjajah Inggris.  Dr Gideon Polya, seorang ahli biokimia dari Australia bahkan tak ragu menyebut kelaparan Bengali ini sebagai holocaust, karena sangat jelas penyebab utama bencana itu adalah kebijakan Inggris yang menguras habis hasil panen India dan mengirimkannya untuk cadangan makanan pasukan Inggris di seluruh dunia.

Padahal, Kabinet Perang Inggris sudah diperingatkan berkali-kali akan potensi terjadinya bencana kelaparan. Hasilnya, pemerintah Inggris membunuhi hampir 4 juta orang rakyat jelata di Bengali hanya dalam waktu 1 tahun. Sungguh kejaam!!

Para pengamat baik dari India maupun Inggris menuding bahwa dalang dari tragedi kelaparan ini adalah Winston Churchil, perdana menteri sekaligus pemimpin Kabinet Perang tahun 1940-45.

Tahun 2010, Madhusree Mukherjee, penulis sekaligus jurnalis Bengali menulis buku “Churchill’s Secret War” yang membongkar peran Churchill dalam bencana kemanusiaan itu. Dalam bukunya, Mukherjee juga menggambarkan keadaan Bengali ketika bencana kelaparan itu terjadi. Banyak dari mereka yang kelaparan akhirnya putus asa dan mengakhiri hidup mereka dengan melemparkan diri ke kereta yang sedang berjalan.

Para orang tua membuang anak mereka yang kelaparan ke sungai dan sumur. Anak-anak makan dedaunan dan tumbuhan merambat  bahkan rumput. Mayat-mayat bergelimpangan karena mereka yang hidup terlalu lemah untuk mengubur maupun mengkremasi mereka yang meninggal.

Bahkan banyak mayat yang akhirnya dimakan anjing. Mereka yang tidak ingin mengalami nasib serupa sampai rela melakukan apapun demi bertahan hidup. Para wanita melacurkan diri, dan para ayah menjual anak-anak mereka sendiri demi uang. Hii, ngeri.. Mukherjee mengungkap sikap Churchill yang sama sekali tak peduli dengan keadaan rakyat Bengali akibat strategi perangnya.

 Dalam salah satu rapat Kabinet Perang, Churchill justru menyalahkan rakyat India sendiri karena mereka “berkembang biak seperti kelinci”. Ketika pemerintah kolonial di Delhi mengirim telegram yang menceritakan bencana yang terjadi akibat kelaparan, Churchill hanya merespon dengan  pertanyaan ketus, “Lalu kenapa Gandhi belum juga mati?”.  Yang bikin geram, Mukherjee mengungkap dalam bukunya bahwa sebenarnya ada kapal yang mengangkut gandum dari Australia, tapi alih-alih diberikan pada rakyat Bengali yang kelaparan, Churchill malah mengalihkan gandum itu ke prajurit Inggris di Mediterania dan Balkan untuk persediaan makanan mereka.

Bahkan, seolah untuk melengkapi kekejaman Churchill, pemerintah kolonial Inggris pun menolak bantuan makanan untuk India dari Kanada dan Amerika! Sadis broo…!

D’Riser itulah kejamnya kaum penjajah. Mereka tak segan mengubur rasa kemanusiaan demi mendapat keuntungan dan keselamatan, walau orang lain harus mati bergelimpangan. Itu karena pandangan hidup mereka yang individualis dan materialistis, bahkan nggak sedikit juga dari mereka yang rasis! Seperti si Winston Churchill itu.  

Sementara Islam sudah pasti tidak begitu. Rasulullah Saw mengajarkan, politik luar negeri negara Islam dilakukan dalam rangka menyebarkan dakwah. Kalaupun terjadi perang, maka itu hanya untuk menghancurkan pihak-pihak yang menghalangi dakwah Islam dengan kekuatan senjata. Karena itu tak heran, walaupun menaklukkan banyak negeri, tapi Khilafah Islam tidak memperbudak apalagi membantai rakyatnya. Negara seperti ini baru top banget untuk diperjuangkan.[]

Ketika Rakyat Inggris Menderita Kelaparan

Negara Khilafah Utsmaniyah di abad 19, walaupun di ambang kemunduran, tapi masih termasuk  negara besar. Ketika terjadi kelaparan besar (Great Famine) yang melanda Irlandia di wala tahun 1845, Sultan Abdul Majid I menyatakan keinginannya untuk mengirimkan 10,000 poundsterling demi meringankan bencana kelaparan Irlandia yang sudah mengakibatkan lebih dari 1,000,000 orang meninggal. Menariknya, Ratu Victoria meminta Sultan untuk mengirim hanya 1,000 pound, karena dia telah mengirim hanya 2,000 pound. Sultan pun mengirim 1,000 pound, namun diam-diam juga mengirim 3 kapal penuh makanan. Inggris berusaha untuk memblokir kapal itu, tapi makanan sampai di pelabuhan Drogheda dan ditinggalkan di sana oleh para Pelaut Usmani.

Karena peristiwa ini rakyat Irlandia, khususnya mereka yang tinggal di Drogheda, menjadi bersahabat dengan orang Turki. Bahkan, sebagai ungkapan terima kasih pada Ustmani mereka menambahkan gambar bulan bintang pada lambang kota Drogheda, sampai sekarang. Simbol bulan  bintang ini juga  terpapang di logo klub sepak bola Drogheda United. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *