Friday, May 22

Liputan Khusus : Menggugat dan Mengadili Drakula

Dracula kan? Pastinya..! Terutama dari film, kita mengenal Dracula sebagai sosok vampir  penghisap darah, raja kegelapan dan horor. Iya apa iya? Nahh, dalam liputan khusus kali ini, kita bakal disodorkan beragam fakta sejarah. Ternyata, Dracula itu bukan tokoh fiktif lho melainkan nyata pernah hidup di tengah manusia. So guys, he is a real human!  Tanggal 17 Agustus 2016 lalu, kerumunan orang tak hanya ada di lapangan tempat perlombaan. Ratusan pasang mata begitu khusyu mengikuti sebuah acara apik bertajuk

 “Menggugat dan Mengadili Dracula”

di Wisma Antara Jakarta. Para penonton terinspirasi oleh pemaparan empat pemateri jempolan. Ust Felix Siauw, Kang Sayf Muhammad Isa, Ust Hafidz Abdurrahman dan Ustz Irene Handono, dipandu oleh MC ideologis Kang Asep Supriatna.

Acara dipadati lebih dari 700 peserta dan rela berdesakan di luaran mengingat tempat dan tiket yang terbatas. Bukti betapa antusiasnya acara ini disaksikan oleh rekan dari berbagai penjuru. Ya, Dracula adalah tokoh nyata yang dikenal sebagai Vlad III Dracul. Ia adalah pangeran Wallachia, yang juga pernah belajar di Edirne saat kecil.

Disini, Ia bersinggungan dengan komunitas kaum muslimah. Walau ia belajar di Edirne, kekejaman dan kebenciannya terhadap kaum Muslim tak pernah hilang, dan akhirnya dikenal hingga kini. Dikenal juga dengan Vlad “The Impaler”, kesukaannya menyiksa manusia dengan kayu tajam yang ditusukkan dari anus hingga tembus ke mulut.

Hiii serem bingit! Adalah Khilafah Abbasiyyah yang menjadikan kaum Turki menjadi penjagapenjaga perbatasan, dan beberapa  “penjaga” ini kemudian memilki  pemerintahan sendiri-sendiri yang dikenal sebagai kesultanan. Kesultanan yang paling kuat saat itu adalah Kesultanan Utsmani yang menduduki wilayah Asia Kecil dan Eropa kecuali Konstantinopel sekitar awal abad ke-15.

Tidak hanya berkuasa, ia menentukan kebijakan politik negara-negara Eropa Timur seperti Wallachia, yang sekarang ada di Rumania. Vlad III Dracul (Vlad III Naga) dan adiknya Radu Cel Frumos (Radu Si Tampan), termasuk jaminan yang diberikan oleh Vlad II Dracul sebagai penguasa Wallachia kepada Sultan Murad II, untuk menjamin kesetiaannya pada Utsmani.

Sempat dididik dalam Islam, satu bangku sekolah dengan Mehmed II yang kelak akan kita kenal sebagai Sultan Mehmed II Al-Fatih, nasib kedua pangeran Wallachia ini berbeda. Radu memeluk Islam dan menjadi panglima Yeniseri, sedang Vlad III memilih membenci Islam  dengan kekejamannya Sejarah kelak mencatat kesadisan  dan kebiadaban Vlad III Dracul anak Vlad II Dracul, dalam bahasa Rumania, Dracul-ae artinya adalah “anaknya Dracul”.

Sehingga dunia mengenal Dracula sebagai lambang kengerian. Sejarah juga mencatat sepak  terjang Vlad III Dracul, yang bekerjasama dengan Kerajaan Hungaria, atas perintah Paus Pius II untuk melaksanakan perang salib pada kaum Muslim.

Dan bagaimana Kesultanan Utsmani atas izin Khalifah Abbasiyyah, melindungi kaum Muslim  dari kekejaman Dracula. Buka mata  buka telinga, baca sejarah sebetulnya, dan kita akan makin berbangga dengan Islam. Di hadapan Islam, Dracula nggak ada apa-apanya… [Foto dan Info dikutip dari berbagai sumber]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *