Saturday, May 23

Menangkap Inspirasi Dengan Diary

Menulis adalah sebuah aktiitas intelektual yang keren banget. Saat menulis, kita tengah  menuangkan apa yang ada di dalam pikiran dan hati ke dalam media tulisan agar orang-orang yang baca tulisan kita tercerahkan.Jadi ladang pahala deh.

 Karena penting bangetnya menulis, banyak ulama yang menghabiskan separuh umurnya untuk menulis berbagai kitab. Mereka ngerti banget bahwa menulis akan membuat ilmu menjadi lebih bertahan lama. Ilmu akan bisa tetap dinikmati dan dimanfaatkan walaupun para ulama itu telah wafat bertahun-tahun lalu. Karenanya buku menjadi warisan luar biasa dari para ulama. Sekarang ini kita masih bisa memperoleh keluasan ilmu Imam Syafi’i, itu karena beliau menulis buku.

Coba kalo dulu beliau cuma mengajar saja kepada murid-muridnya, dan tidak menulis buku, tentunya ilmu beliau tidak akan bisa dinikmati sedemikian banyak orang hingga  jaman sekarang ini. Karena itulah menulis buku jadi penting banget. Ah nulis buku kan susah. Tebel dan bakalan capek nulisnya. Kalo mandeg di tengah-tengah gimana? Kalo inspirasinya mampet gimana? Yang kayak gini nih yang menghambat D’riser untuk mulai menulis buku.

Padahal semua keluhan itu cuma ilusi yang dihembuskan setan agar kita nggak mau mulai menulis. Semua itu cuman ketakutan yang nggak beralasan. Yuk kita bahas soal inspirasi. Menulis emang perlu inspirasi. Dengan kata lain, nulis itu perlu ide, lha kalo nggak ada ide terus kita mau nulis apa?! Terus dari mana sih kita mendapatkan inspirasi ini? Sebenernya jawabannya cukup sederhana lho. Kehidupan ini adalah inspirasi.

Selama kita masih hidup maka pastilah kita akan selalu mendapatkan banyak inspirasi untuk dituliskan. Salah satu hal yang paling luar biasa yang diciptakan Allah Swt. adalah kehidupan ini. Allah nggak akan pernah menciptakan hal yang sia-sia dan nggak ada gunanya, makanya kehidupan adalah sesuatu yang amat luar biasa. Hidup setiap orang udah diciptakan Allah dengan luar biasa, termasuk kita semua, hidup D’rises juga.

Dengan kata lain, lihat deh  kehidupan kita, dari hal-hal yang paling sederhana, perhatikan, amati, dan kita akan menemukan bahwa di sana bertaburan hal-hal yang luar biasa yang amat layak untuk dituangkan dalam bentuk tulisan. Sebagai awal yang baik, mulailah menulis hal-hal sederhana dalam kehidupan kita. Kita bisa menuliskan betapa indahnya Allah membentuk wajah kita. Kita juga bisa menuliskan orang-orang yang ada di sekitar kita: ayah, ibu, adik, kakak, dan keluarga kita yang lainnya. Bagaimana keadaan kamar kita juga bisa dituangkan. Pergaulan dengan temanteman di sekolah atau cara ngaja guruguru kita yang killer juga bisa dituliskan. Dari sini, kita sudah mulai menulis catatan harian yang bahasa gaulnya disebut diary.

Eit, jangan minder dulu, nulis diary bukan cuma kebiasaan anak gaul labil yang nggak tentu arah. Nulis diary adalah sebuah kebiasaan intelektual yang keren banget lho. Orang-orang besar dalam sejarah umat manusia biasanya nulis diary, dan di dalam diary itulah mereka menumpahkan segala keluh-kesah dan pemikiran mereka tentang kemajuan dan perlawanan terhadap tirani. Diary pulalah yang akan merekam sepak terjang dan perjuangan mereka hingga lembar-lembar terdalam.

Dari menulis pengalaman-pengalaman kita seharihari aja kita udah bisa bikin berlembarlembar buku lho. Dan kebiasaan ini kemudian dijadikan starting point untuk menulis bentuk-bentuk tulisan lainnya, yang tentu saja bakalan lebih mudah kita kerjakan karena sudah terbiasa dari nulis diary. Eksplorasi  inspirasi pun jadi lebih mudah karena kita udah menempa pengalaman dari nulis diary. Ada lho orang yang catatan hariannya diterbitkan menjadi buku, dan bahkan diary itu mengungkap fakta-fakta sejarah dan kondisi sosial pada zaman hidup penulisnya.

Seperti ‘The Diary of Anne Frank’, catatan harian seorang gadis remaja yang tinggal di Amsterdam pada masa Nazi Jerman menyerang Belanda. Dari catan hariannya yang berhasil lolos dari Perang Dunia Kedua itulah kita jadi tahu bagaimana romantika dalam persembunyian. Diary itu pula yang mengungkapkan bagaimana orangorang pada zaman itu menyelamatkan diri dari pembantaian Nazi Jerman.

Di negara kita, sebut saja Soe Hok Gie, seorang mahasiswa Indonesia dari etnis China yang menjadi aktifis pada masa pemberontakan PKI dan peralihan dari Orde Lama menuju Orde Baru. Diary-nyayang bertajuk Catatan Harian Seorang Demonstran mengungkap berbagai kondisi sosialpolitik pada zaman itu, dan sudah lama diterbitkan. Berdasarkan diary itu pulalah sebuah film layar lebar dibuat. Dia telah menjadikan hidup dan  kehidupannya sendiri sebagai sumber  inspirasi dan kemudian menuangkannya dalam tulisan. Dari sekarang yuk kita mulai menulis. Jangan kebanyakan mikir, mulai aja nulis di buku harian. Yuk![]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *