Wednesday, October 16

Pionir Vaksinasi

Hingga zaman kiwari, vaksinasi masih menjadi bahan perdebatan baik itu di kalangan kaum muslimin ataupun non muslim. Sebagian percaya bahwa vaksin merupakan konspirasi zionis untuk mengurangi populasi manusia di dunia. Ih syerem.

Terlepas dari kontroversi tersebut, tahukah D’Riser, ternyata teknik vaksinasi dibawa ke Eropa dari Turki Utsmani lho! Mereka menyebut teknik tersebut Ashi, atau “menanam”, yang merupakan pengembangan dari tradisi pengobatan tradisional suku Turki Seljuk.

Buat D’Riser yang belum konek, vaksinasi merupakan proses medis ketika seseorang diberi organisme penyebab penyakit yang telah dilemahkan atau dalam dosis kecil, sehingga merangsang sistem kekebalan tubuh untuk memproduksi antibodi untuk penyakit tertentu.

Pengembangan sebuah vaksin baru bisa memakan waktu 8-12 tahun, dan sebuah vaksin harus dites dengan sangat teliti sebelum dinyatakan aman untuk dikonsumsi publik. Bangsa Turki menemukan, jika anakanak mereka diinokulasi (inokulasi = pemasukan bakteri, virus, atau vaksin ke  dalam tubuh melalui luka atau melalui alat  yang digoreskan pada kulit) dengan cacar  sapi (cow pox) yang diambil dari tetek hewan ternak, mereka tidak akan terkena penyakit cacar (smallpox) yang lebih mematikan.

Teknik ini kemudian diperkenalkan di Eropa di kisaran tahun 1714 – 1716 M, melalui laporan yang diterima oleh Royal Society of London dari Dr. Emanuele Timonius dan Jacob Pylarini yang menjelaskan metode inokulasi dari Turki. Dr. Timonius merupakan penerjemah resmi untuk Wazir Agung Turki Utsmani Huseyn Pasha ketika Perjanjian Karlowitz tahun 1699. Walaupun penyakit cacar saat itu tengah mewabah di Inggris, laporan ilmiah itu ternyata tidak mempengaruhi pandangan para tabib di Inggris yang masih cenderung konservatif.

Teknik vaksinasi Turki ini mulai dilirik ketika Lady Mary Wortley Montagu, istri dari duta besar Inggris untuk Daulah  Sebuah perangko Turki yang diterbitkan tahun 1967 untuk memperinga ti 250 tahun vaksinasi cacar di Turki Utsmaniyah, melihat sendiri praktek vaksinasi yang dilakukan dokter-dokter Utsmani. Montagu sendiri yang sebelumnya pernah terkena penyakit cacar, sangat takjub dengan teknik tersebut, dan tanpa ragu menginokulasi anaknya dengan metode Turki.

Dari Adrianople, pada April 1717 Lady Montagu menyurati temannya Sarah Chiswel di Inggris, “… Aku akan mengatakan satu hal yang pasti akan membuatmu berharap dirimu berada disini. Penyakit cacar, yang ganas dan umum diantara kita, disini tidak berbahaya samasekali dengan penemuan Ashi. Pekerjaan itu dilakukan oleh wanitawanita tua yang akan memasukkan racun cacar ke dalam pembuluh darahmu dengan sebuah jarum besar (rasanya tidak lebih sakit dari tergores). Pasien anak-anak  bermain sepanjang hari dalam keadaan  sehat … kemudian mereka mulai terkena demam … dan dalam 8 hari mereka telah sehat seperti sedia kala ….”

Setelah Montagu kembali ke Inggris tahun 1721 ia pun menyebarkan teknik vaksinasi Turki tersebut, namun ia menghadapi penentangan sengit, bukan cuma dari kalangan gereja yang memang  sudah biasa menentang penemuan ilmiah, tetapi juga dari kalangan tabib. Mungkin mereka kira vaksin itu konspirasi Islam untuk menghancurkan Eropa kali yaa.

Namun berkat “kegigihan” Montagu, teknik Ashi akhirnya menyebar dan terbukti sukses. Sementara, dalam literatur barat disebutkan bahwa pionir vaksin adalah Edward Jenner, bahkan Jenner disebut sebagai bapak immunologi. Padahal, penemuan Jenner tercatat pada tahun 1796. Kalau istilah “vaccination” itu sih memang yang pertama kali menggunakan adalah Jenner. Namun konsep vaksinasi itu sendiri ternyata sudah dipraktekkan oleh dokterdokter Utsmani sebelum Jenner brojol ke  dunia.

Tahun 1805 Muhammad Ali Pasha diangkat sebagai Wali untuk wilayah Mesir dan Sudan, dan melakukan modernisasi di berbagai bidang, termasuk pengobatan dan vaksinasi. Muhammad Ali kemudian memelopori upaya pemberantasan penyakit cacar yang kala itu mewabah di pedesaanpedesaan Mesir.

Upayanya itu mulai terlihat  hasilnya pada tahun 1819, dan dua tahun  kemudian inokulasi diterapkan pada angkatan bersenjata Mesir serta pasukan  wajib militer dari Sudan.  Barulah pada tahun 1840, Daulah Utsmaniyah memulai upaya pengimplementasian vaksinasi untu rakyatnya dalam skala besar.

Daulah juga menetapkan undang-undang yang menyatakan bahwa vaksin cacar harus tersedia dan siap digunakan oleh masyarakat serta bebas biaya. Ketika terjadi outbreak cacar pada tahun 1845, Daulah membangun pos-pos vaksinasi di seluruh kota serta memelopori program untuk mendatangkan pelajar-pelajar dari berbagai provinsi ke Universitas Ilmu Kedokteran Daulah Utsmaniyah untuk di-training teknik vaksinasi.

Subhanallah… sangat beralasan untuk merindukan kembali kehadiran Khilafah Islamiyah ala minhaj annubuwwah. Yuk bergerak! [Isaak] Sumber: Smallpox inoculation and the Ottoman  contribution: A Brief Historiography 1001 Inventions, Muslim heritage in Our  World

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *