Friday, August 14

Majalah Remaja Islam Drise edisi 61 : Plus Minus Generasi Milenial

Anak sekarang sibuk

main gadget melulu, deh!”

“Ngapain, sih, kamu tiap detik

kerjaannya cuma ngecek chat

sama media sosial?”

Eits,,.jangan baper ya. Sebagai orangtua, saya sering dapat keluhan seperti di atas dari ortu yang punya  anak remaja. Nggak cuman ayah dan ibunya, terkadang kakek-nenek, ortu, atau kakaknya juga ikut-ikutan ngomel.

Gimana nggak, hari gini remaja dan gadget itu ibarat dua sejoli. Kemana aja selalu barengan. Kalo udah gitu, yang lain dicuekin. Makanya kalo ortu pada bete.  Lagi diajakin ngomong, kepalanya nunduk bukan lantaran hormat.

Tapi lagi asyik updet status. Hadeuuh..! Ya emang gitulah potret kecil ukuran 2 x 3 dari generasi millenial. Sebagian besar hidup mereka dihabiskan di dunia maya daripada dunia nyata. Eksistensi mereka begitu massif dengan mengupload puluhan selfie, foto makanan, dan lokasi liburan eksotis di sosmed mereka setiap minggu.

Eksis abis! Btw, udahtahu generasi millenial kan? Hah, belum?! Hadeuh…#tepokjidat. Kalo gitu kita kenalan dulu deh dengan generasi millenial. Biar bacanya nyambung. Yuk! Generasi

Millenial adalah…

Ada banyak definisi tentang  karakter Generasi Millenial yang biasa disebut millenials, tetapi yang dipakai dalam tulisan ini adalah definisi versi Strauss dan Howe (2004). Menurut definisi Strauss dan Howe, Generasi Millenial adalah mereka yang lahir tahun 1982-2004 (milenium), sehingga menjadi remaja dan dewasa di era 2000-an.

Termasuk kamu dong, ya? ± Pada tahun 2014, lembaga Crowd DNA mengadakan survei online terhadap 1,000 anak muda usia 13-24 tahun di Indonesia. Hasil survei tersebut menunjukkan bahwa teknologi benar-benar merevolusi cara anak muda saling terhubung. Sekitar 90% dari anak muda yang disurvei tersebut mengaku menggunakan teknologi untuk terhubung dengan teman-temannya dan 78% mengaku menggunakan media sosial tiap hari.

Pastinya! Anak-anak muda Indonesia terbukti memakai smartphone seharian dan 84% dari mereka mengaku nggak bisa keluar rumah tanpanya. Mereka lebih suka “nongkrong” di dunia maya (55%) daripada di mall (47%) atau kafe (42%) dan mereka punya rasa Fear of Missing Out (FOMO) alias takut nggak update atau ketinggalan  informasi kalau nggak terhubung dengan internet.  

Masih menurut sebuah studi yang dilakukan Crowd DNA untuk Facebook di 2014, pada 11.000 remaja dari 13 negara, termasuk Indonesia ditemukan bahwa remaja Indonesia dapat dibagi menjadi tiga kelompok Generasi Millenial yaitu HyperConnected, Architects, dan Explorers.

Kehidupan generasi HyperConnected (usia 13-15 tahun) berkisar antara keluarga dan teman-teman dan teknologi terjalin dalam setiap bidang tunggal kehidupan mereka. Kelompok ini menempatkan nilai tertinggi pada media sosial dan perannya dalam kehidupan  mereka.

Sementara kelompok Architects (usia 16-19 tahun) adalah kelompok yang bergairah tentang pendidikan dan mulai berpikir tentang masa depan dan tujuan hidup mereka. Mereka adalah kelompok yang paling terbuka untuk berbagi rincian kehidupan sehari-hari mereka. Sedangkan Explorers (usia 20-24 tahun) yang menggunakan teknologi lebih dari sekedar sarana untuk tetap berhubungan dengan teman dan keluarga, tetapi juga sebagai jalan untuk belajar tentang penyebab dan budaya global saat mereka memasuki usia dewasa.

Mereka paling banyak terlibat dengan brand dan konten dari brand. Nggak heran kalo Millenials selalu dicari dan didambakan oleh para pemasar  dan brand. Lantaran generasi ini selalu terhubung, berubah-ubah tetapi memberi pengaruh sebagai penentu tren yang dapat membuat atau menghancurkan brand. Kebayang kan kalo mereka udah pada nyerocos di dunia maya tentang pengalaman buruknya pakai sebuah brand, viral!

Konsumtif, Digital, Anti Sosial

Millenials hidup di era digital  dengan segala kecanggihan teknologinya. Dari urusan pertemanan hingga pekerjaan, mereka sangat mengandalkan gadget dan internet untuk tetap terhubung satu sama lain. Sayangnya, generasi yang lebih tua sering mencap para millennials dengan stereotype yang sama, yaitu malas dan narsis! Benarkah? Mendingan kita intip yuk ciri-cirinya.

Gaya Hidup Digital Millenials memiliki karakteristik  yang khas. Lahir di zaman TV sudah berwarna, flat, LED, dan memakai remote dengan sajian siaran tv berlangganan dengan bejibun channel informasi, olahraga dan hiburan. Sejak masa sekolah, mereka juga sudah terbiasa menggunakan handphone.

Bahkan tiap keluar edisi terbaru, mupeng pengen ganti smartphone yang super canggih dan mumpuni.  Internet menjadi kebutuhan pokok Millenials. Mereka berusaha untuk selalu terkoneksi di manapun dan kapanpun. Eksistensi sosial ditentukan ‘prestasinya’ di dunia maya. Mulai dari jumlah follower dan like, punya tokoh idola, hingga ikut latah cantumin #hashstag yang lagi viral.

Pokokya updet banget! Wajar kalo generasi millennial juga menghabiskan hidupnya hampir senantiasa online 24/7. Menurut riset Social Lab, 58  persen generasi millennial lebih rela  kehilangan indra penciuman, dari pada akses terhadap teknologi. Generasi millennial lebih suka mendapat informasi dari ponselnya, dengan mencarinya ke Google atau perbincangan pada forum-forum, yang diikuti untuk selalu up-to-date dengan keadaan sekitar.

Mereka akan lebih memilih tidak memiliki akses ke TV, dibandingkan akses ke ponsel. Komunikasi yang berjalan pada orang-orang generasi millennial sangatlah lancar. Namun, bukan berarti komunikasi itu selalu terjadi dengan tatap muka, tapi justru sebaliknya.

Banyak dari kalangan millennial melakukan semua komunikasinya melalui text messaging atau juga chatting di dunia maya, dengan membuat akun yang berisikan profil dirinya, seperti Twitter, Facebook, hingga Line. Akun media sosial juga dapat dijadikan tempat untuk aktualisasi diri dan ekspresi, karena apa yang ditulis tentang dirinya di situ adalah apa yang akan semua orang baca.

Jadi, hampir semua generasi millennial dipastikan memiliki akun media sosial sebagai tempat berkomunikasi dan berekspresi. Konsumtif Kepercayaan yang  amat tinggi terhadap tingkat keamanan bertransaksi di dunia maya—plus menjamurnya online shop—bikin Millenials lebih konsumtif. Kadang-kadang, konsumtif BANGET.

Apalagi dengan kemudahan pembayaran non tunai alias cashless, mereka makin terhanyut dalam gaya hidup sophaholic. Tinggal pilih barang yang mau dibeli, gesek di kasir, beres. Praktis! Terbukti, menurut survei CROWD DNA, metode pembayaran favorit Millenials adalah kartu debit (38%). Pokoknya kartu debit menjadi pilihan utama, dibandingkan e-banking (5%), mobile banking (7%), ataupun  uang elektronik (4%). Egosentris Millenials terbiasa mengutarakan  pendapatnya di publik dengan bebas, entah itu pendapat positif, negatif, mendukung, ataupun menyerang. Cek aja komen di akun sosial media artis yang lagi kena kasus.

Dijamin rame komentar pro dan kontra. Mereka memang nggak ragu untuk ngeluarin uneg-unegnya dengan memuji, mencela, termasuk spammer alias jualan di publik, hihihi. Millennials dinilai cenderung cuek pada keadaan sosial, mengejar kebanggaan akan merk/brand tertentu padahal orangtuanya makan dua kali sehari saja sudah bersyukur. Pulang kuliah/ kerja nongkrong di Starb*cks, padahal di kosan hanya makan mie instan. Cuek aja, yang penting gaya. Yang penting eksis di media sosial.

Yang penting follower-nya banyak. Sekolah atau kuliah cuma jadi ajang pamer harta orang tua (untuk yang berpunya), dan jadi perjuangan untuk yang tipe BPJS.

Budget Pas-pasan Jiwa Sosialita! Generasi kita juga dikenal cenderung idealis, egosentris, terlampau optimis dan tidak realistis. Saat terbentur masalah cenderung berpikir pendek, cari  jalan pintas dan lari dari kenyataan sambil bernyanyi “lumpuhkanlah ingatanku…”

Kontribusi Millenials

Internet tidak hanya mengubah  gaya hidup, tapi juga peradaban dan generasi. Melalui teknologi digital, generasi millennial tumbuh kreatif, berinovasi, dan membentuk ekonomi Indonesia.

Apalagi saat ini segala aktivitas selalu bersentuhan dengan internet. Mereka menemukan caranya sendiri untuk terhubung dan terkoneksi dengan orang lain lewat media sosial, seperti Twitter, Facebook, Path dan sebagainya.

Tidak ada lagi jarak, dan semua saling terkoneksi. Mereka merubah tatanan nilai dan gaya hidup selama ini menjadi serba digital. Dengan adaptasi teknologi, ide kreatif dan orisinil untuk mengakomodir semua aktivitas mereka jadi lebih mudah.

Muncullah berbagai inovasi gaya hidup digital yang revolusioner dan melahirkan sejumlah startup di Indonesia. Nadiem Makarim, yang juga merupakan bagian dari generasi millenial, membangun startup ojek online yang menjadi sebuah solusi di tengah macetnya ibukota Jakarta.

Tidak hanya itu, Gojek yang juga bertujuan untuk meningkatkan pendapatan para supir ojek, telah menciptakan tren baru di Indonesia, yang mana para millennial berlomba-lomba untuk menciptakan karya yang berdampak bagi masyarakat luas.

William Tanuwijaya, pendiri Tokopedia, adalah salah satu yang menggerakkan perubahan di dunia ecommerce. Dimulai dengan mendapatkan investasi sebesar 100 juta dolar Amerika dari Softbank dan Sequoia, perusahaan investasi yang telah mendukung sejumlah perusahaan teknologi dunia seperti Apple, Google, Whatsapp, lalu William memimpin pasukan millennial di Tokopedia, untuk menciptakan nilai tambah bagi para penjual dan pelanggan Tokopedia.

Tidak hanya di perekonomian. Banyak perubahan yang dibawa oleh millennials menggunakan platform digital. Kitabisa.com yang digagas oleh Alfatih Timur bersama Vikra Ijas, misalnya membawa perubahan di ranah sosial.

Peristiwa pembakaran Masjid Tolikara pada saat shalat berjamaah Idul Fitri 2015, banyak menimbulkan keprihatinan di berbagai lapisan masyarakat. Berkat platform crowdfunding untuk sosial Kitabisa ini, Pandji Pragiwaksono berhasil mengumpulkan dana untuk membangun kembali masjid tersebut sebanyak Rp 300 juta hanya dalam waktu tiga hari. Jadi, nggak ada salahnya ‘kan Millenials berkutat dengan Internet dan media sosial? Karena potensi Millenials memang bisa berkembang pesat di sana. Hobi surfing di dunia maya juga nggak bikin Millenials kehilangan “akar” di dunia nyata, kok. Setuju?

Saatnya Berkarya dan Berkontribusi!

Nggak bisa dipungkiri,  tiap generasi ada plus minusnya. Senior kita yang hidup di era generasi X atau baby  boomers, ngerasa  generasi mereka yang terbaik dan memandang sebelah mata generasi millenial. Boleh jadi, kita pun bakal melakukan hal yang sama terhadap junior kita kelak. Podo wae! Sebenernya nggak penting generasi mana yang terbaik. Lantaran beda generasi, beda lingkungan dan sarana kehidupan.

Nggak bisa dipukul rata. Yang penting, setiap generasi wajib berkontribusi. Berlomba-lomba jadi pelaku kebangkitan umat Islam di seluruh dunia, bukan hanya jadi penonton yang rusuh berkomentar di dunia maya tanpa kerja nyata.  

Dan kita selaku Millenials, nggak usah baper kalo dibilangin generasi malas bin narsis oleh para pendahulu kita. Boleh jadi banyak temen-temen kita yang kelakuannya kaya gitu sebagai bawaan era digital. Nggak perlu kita capek membela diri. Yang harus kita lakukan adalah tunjukkan dengan berkarya dan berkontribusi. Show, dont tell! Lalu, apa yang bisa kita lakukan sekarang?  

Pertama, mengenal Islam lebih dalam. Buat apa? Ish…ini penting banget tahu. Biar kita nggak gampang tergoda oleh kemaksiatan digital yang merajalela. Mulai dari content porno yang mudah diakses, upload foto narsis, atau omongan semau gue di sosial media. Kalo lagi sendiri, bisikan setan menemani, dengan kekuatan akidah kita bisa jaga diri.  

Terlebih, agar tetap bisa terus berkontribusi untuk kebaikan, perlu mencari dorongan kuat yang bikin kita pantang menyerah. Itu bisa kita dapat dari dorongan akidah. Berkontribusi sampai nanti, sampai mati. Rasul mengingatkan,  “..Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni).

Kedua, aktif berdakwah di sosial media. Seperti halnya kita, teman-teman sebaya juga pada aktif di sosial media. Ada yang curcol di timeline, narsis, hingga bisnis. Biar aktifititas online mereka nggak sekedar buang waktu, sodorin deh content dakwah yang kita share. Jangan takut kehabisan bahan dakwah. Follow aja akun-akun dakwah yang oke punya. Selain kita dapat ilmu, juga insya Allah banjir pahala juga dengan membagikan nasihat mereka. Oke?

Ketiga, gali potensi. Hari gini, gampang banget kita cari ilmu dengan bantuan om google atau kepoin akun-akun bermanfaat di sosial media. Selagi masih muda, banyak kegiatan yang bisa kasih kebaikan buat masa depan kamu. Mulai cari tahu apa yang menjadi passion-mu yang bisa memberikan manfat pada lingkunganmu dan pada orangtuamu. Cari tahu, pelajari ilmunya, pahami polanya, praktekin biar keliatan hasilnya. Kita muda, kita enerjik, dan kita punya banyak ide untuk diwujudkan.

Driser, survei Crowd DNA juga menunjukkan bahwa Millenials adalah anak muda yang optimis. 92% dari anak muda yang disurvei merasa mereka bisa melihat sisi positif dalam setiap situasi, dan 86% yakin generasinya akan mengubah dunia. Karena itu, stop jadi remaja muslim yang labil. Mari mulai berkarya dan berkontribusi! [@Hafidz341]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *