Monday, April 6

The Most Amazing Journey

Setiap tanggal 27 Rajab, kaum Muslimin di seluruh dunia memperingati sebuah peristiwa yang  super duper bersejarah banget. Yup, itulah hari Isra’ dan Mi’raj. Hari dimana Rasulullah SAW diperjalankan oleh Allah dari Makkah ke Baitul Maqdis di Palestina (Isra’), serta menanjaki langit hingga Sidratul Muntaha (Mi’raj), dan kemudian kembali lagi ke Makkah, semua dalam waktu kurang dari 1 malam! MasyaAllah!  

Ditemani oleh malaikat Jibril dan Mikail, Rasulullah SAW melakukan Isra’ dengan mengendarai Buraaq, yaitu makhluk yang ukurannya lebih besar dari keledai namun lebih kecil dari bagal (hewan blasteran kuda betina-keledai jantan) tapi sekali melangkah mampu menempuh jarak sejauh mata memandang. Berdasarkan riwayat dari imam Nasa’i, sebelum menuju Baitul Maqdis Rasulullah juga singgah dan melaksanakan shalat di Thaibah (Madinah), Thursina (Gunung Sinai), tempat nabi Musa AS menerima wahyu, dan Bethlehem (Baitul Lahm), tempat kelahiran nabi Isa AS.  

Sesampainya di Baitul Maqdis, ternyata Masjid al Aqsha dipenuhi oleh para Nabi dan Rasul. Kemudian Rasulullah SAW pun shalat 2 rakaat mengimami orang-orang pilihan Allah tersebut. Setelah itu baru Rasulullah Mi’raj menaiki lapis demi lapis langit hingga ke Baitul Ma’mur  yang ada di langit ke 7. Di Baitul Ma’mur yang menjadi kiblat para penduduk langit, Rasulullah SAW berjumpa dengan Nabi Ibrahim AS khalilullah.  

Dari Baitul Ma’mur kemudian kedua kekasih Allah itu menuju Sidratul Muntaha. Disinilah Rasulullah SAW menerima perintah shalat 5 waktu, dan kemudian beliau diantar kembali ke Makkah. Selama perjalanan Isra’ dan Mi’raj, Rasulullah SAW berjumpa dengan para Nabi dan Rasul, para Malaikat, bahkan melihat surga dan neraka. Sungguh luar biasa.  Peristiwa Isra’ dan Mi’raj, walaupun benar-benar terjadi, namun karena akal dan pengetahuan manusia yang terbatas menyebabkan fakta ini sulit dicerna dan diterima orang, terutama peristiwa Mi’raj.

Ketika penduduk Makkah mendengar penuturan dari Rasulullah SAW tentang perjalanannya, mereka malah menertawakan dan menganggapnya gila. Sebagian mualaf bahkan berbalik menjadi murtad setelah dikompori kaum kafir. Tapi bagi mereka yang mantap dalam berakidah, kisah perjalanan Rasulullah SAW justru semakin memperkuat keimanan mereka. Misalnya Abu Bakar RA yang langsung membenarkan semua apa yang diceritakan Rasulullah tanpa ragu.  Memang, bagi orang di masa itu yang transportasinya hanya mengandalkan kuda, peristiwa Isra’ sangat sulit diterima akal, apalagi peristiwa Mi’raj.

Hingga zaman rocket-science seperti sekarang pun, mukjizat Mi’raj belum bisa sepenuhnya dijelaskan oleh IPTEK. Sebenarnya memang tidak perlu juga sih mengait-ngaitkan sains dengan mukjizat, sebab mukjizat sendiri merupakan suatu peristiwa yang di luar kewajaran alias menyalahi sains & “hukum alam”, semata untuk menunjukkan kekuasaan Alloh.

Jadi, mempertentangkan mukjizat dengan sains yang sejak awal gak berkaitan, sama saja ibarat Jaka Sembung naek gojek, gak nyambung gitu bro & sis!  Agar kita menyadari betapa besarnya kekuasaan Alloh, yuk, kita renungkan. Bayangkan, jika langit pertama (dunia) dipahami sebagai ruang angkasa yang diisi dengan milyaran planet, bintang dan galaksi, maka jarak dari bumi hingga ujung terjauh yang bisa diamati manusia adalah 46.5 milyar tahun cahaya. Sementara, 1 tahun cahaya sebanding dengan jarak 9 triliun kilometer!

Tinggal dikalikan aja tuh. Itu baru jarak observable  universe (alam semesta yang bisa diamati) aja lho, padahal para ilmuwan meyakini  bahwa alam semesta jauh lebih luas. Lantas bagaimana dengan langit ke 2,  ke 3 dan seterusnya? Wah, hanya Allah yang tahu…   

Selain itu, ada juga yang berpendapat bahwa perjalanan Mi’raj adalah perpindahan ke dimensi yang lebih tinggi, dari alam dimensi  3 (langit ke 1) yang kita tempati ke alam dimensi 4 (langit ke 2) dan seterusnya. Wah, jangankan berpindah antar dimensi, berpindah tempat dalam dimensi yang sama saja, manusia masih keteteran. For your information, rekor kecepatan yang ditempuh manusia adalah ketika pesawat Apollo 10 kembali dari bulan, yaitu 11 km/detik. Sedangkan rekor kecepatan pesawat tanpa awak adalah 70 km/detik.

Sangat jauh dibandingkan dengan kecepatan cahaya yang mencapai 300.000 km/detik, yang sampai sekarang pun para ilmuwan masih kebingungan bagaimana cara mencapainya. Allahu akbar.  Maka tak heran dalam riwayat Imam Muslim Rasulullah SAW memberi perumpamaan luasnya alam akhirat dibanding alam dunia ini adalah ibarat samudera dengan setetes air yang menempel di ujung jari. Makanya jadi manusia gak pantas untuk sombong.

Apalagi sampai pede bikin aturan sendiri untuk ngatur manusia seperti dalam sistem demokrasi. Tunduk aja ama aturan Allah. Terapkan syariah. Hidup jadi berkah. Gitu aja kok repot![]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *