Friday, October 18

Ustadz Fadlan Garamatan Da’i ‘Sabun Mandi’ Dari Papua

Bukan perkara mudah meniti dakwah di daerah yang mayoritas non muslim. Ustadz Fadlan Garamatan Dai ‘Sabun Mandi’ Dari Papua Pastinya bakal menghadapi  berbagai tantangan yang tak berkesudahan. Baik secara lisan atau fisik yang mengancam jiwa. Hanya mereka yang ikhlas yang bisa melewatinya. Salah satunya adalah Ust. Fadlan. Sejak 1983 memulai dakwahnya di bumi Papua sampai sekarang.

Keluar masuk hutan, naik turun gunung, sudah menjadi kegiatan hariannya dalam rangka syiar Islam ke suku pedalaman. Gimana kiprah perjuangan da’i Papua yang sempat meraih penghargaan sebagai Tokoh Republika tahun 2010 ini? Berikut hasil wawancara redaksi Drise, Hikari dengan Ust. Fadlan. Sila dinikmati tetesan hikmahnya…

Motif Ustadz membentuk AFKN (AlFatih Kaaffah Nusantara) apa sih, share doooong?

Sejak dulu hingga sekarang orang di luar Papua atau kami menyebutnya dengan Nuu Waar, mengidentikkan daerah kami ini sebagai mayoritas agama Kristen, tidak ada Islam, tertinggal, koteka, perang antar suku, dan imej negatif lainnya. Persepsi ini jelas tidak benar. Dirasa perlu ada gerakan untuk merubah persepsi itu kepada masyarakat, baik yang ada di dalam maupun luar negeri. Itu sudah dipikirkan ketika saya masih duduk di bangku kuliah di sebuah perguruan tinggi di Makassar. Bahkan, ketika itu saya sendiri  dianggap sebagai agama non Muslim, hingga saat mata kuliah agama Islam, saya diminta untuk meninggalkan ruangan.

Interaksi saya di perguruan tinggi dengan organisasi mahasiswa Islam, memotivasi saya untuk melakukan gerakan perubahan persepsi itu dengan satu kata: Dakwah. Agar dakwah ini lebih tersistematisasi maka diperlukan lembaga berupa yayasan yang kemudian kami berinama Al-Fatih Kaaffah Nusantara atau AFKN. Insya Allah, lembaga ini kami dedikasikan untuk dakwah dalam bidang sosial, pendidikan, dan dakwah. Selain daripada kami menguatkan Islam penduduk Nuu Waar yang sudah Islam, kami juga membawa anak-anak mereka ke Jawa untuk diberikan pendidikan yang terbaik. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala meridhai usaha dakwah kami ini.

Tantangan Dakwah di Papua yang mayoritas Non Muslim, apa harus membenturkan ‘aqidah dengan ‘aqidah?

Sejujurnya kami tidak sedang membenturkan akidah Islam dengan “akidah” agama atau kepercayaan lain. Islam terlalu mulia untuk  dibenturkan dengan yang lain. Islam itu tinggi dan tidak ada lagi yang lebih tinggi darinya. Tugas kami dalam berdakwah adalah menguatkan akidah saudara kami yang ada di Nuu Waar yang sudah beragama Islam, serta kepada masyarakat pedalaman di Nuu Waar kami mengajarkan nilai dalam Islam yaitu kebersihan. Kami mengajarkan mereka mandi, membersihkan diri dari yang haram dan kotor, mengajarkan mereka berpakaian, dan  mengajarkan pemberdayaan.

Serta, menyampaikan kebenaran Islam dengan menjaga silaturahim. Dari situ, alhamdulillah, di antara mereka ada yang tertarik dengan Islam, lalu memutuskan untuk masuk Islam.   Di situlah mungkin kalangan pemimpin agama lain menganggap dakwah kami ini sebagai bentuk benturan akidah. Bahkan, di dunia maya kini beredar banyak tulisan yang menganggap dakwah yang dilakukan AFKN sebagai bentuk ancaman misi gereja. Sehingga segala bentuk ancaman telah kami lalui. Insya Allah semua itu kami hadapi dengan gembira, karena sesungguhnya yang kami hadapi belum seberapa dengan tantangan yang dihadapi oleh para Nabi dan Rasul Allah di zamannya. Untuk mendapatkan kekuatan itu, kami senantiasa mengharapkan pertolongan Allah SWT. Tidak ada yang dapat menolong kami, kecuali pertolongan Allah SWT.

Benarkah Islam merupakan agama tertua di Nuu War (Papua)?

Ya, Islam merupakan agama pertama orang Nuu Waar. Salah satu cerita yang berkembang di  Fakfak, Papua Barat, bahwa Islam masuk ke Papua dibawa oleh Syaikh Iskandar Syah dari Kerajaan Samudera Pasai. Syaikh Iskandar Syah yang diperintahkan oleh Syaikh Abdurrauf  yang merupakan putra ke-27 dari waliyullah Syaikh Abdul Qadir Jailani ini mulai menjejakkan dakwahnya di Papua pada abad XIII tepatnya 17 Juli 1214 di Mesia atau Mes, daerah itu kini lebih dikenal Distrik Kokas, Kabupaten Fakfak.

Orang pertama yang diajarkan oleh Syaikh Iskandar Syah bernama Kris-kris. Kris-kris ketika itu sudah menjadi menjadi Raja Patipi pertama. Kepada Kris-kris, Syaikh Iskandar Syah mengatakan, “Jika kamu mau maju, mau aman, mau berkembang, maka kamu harus mengenal Alif Lam Lam Ha (maksudnya Allah) dan Mim Ha Mim Dal (maksudnya Muhammad).” Tertegun Raja Kris-kris dengan nasihat dari ulama asal Pasai itu, hingga akhirnya ia menyatakan ingin memeluk Islam dengan mengucapkan dua kalimat syahadat. Kris-kris banyak menimba ilmu kepada Syaikh Iskandarsyah. Kebetulan dalam perjalanan itu, Syaikh Iskandar membawa beberapa kitab, di antaranya mushaf al-Qur’an tulisan tangan, Hadits, Ilmu Tauhid, dan kumpulan doa-doa. Tiga bulan kemudian, Kriskris diangkat menjadi imam pertama di Mesia.

Ustadz Fadlan Garamatan Da’i ‘Sabun Mandi’ Dari Papua

Dalam buku Studi Sejarah Masuknya Islam di Fakfak yang diterbitkan oleh Pemda Kab Fakfak, Papua Barat menjelaskan pada tanggal 8 Agustus 1360 datang seorang mubaligh bernama Abdul Ghafar di Fatagar Lama. Kehadiran mubaligh asal Aceh ini di Semenanjung Onin dalam rangka mencari rempah-rempah yang melimpah ruah di Fakfak. Salah satu rempah yang terkenal di daerah ini  adalah buah pala. Sebagai seorang mubaligh, Abdul Ghafar sangat tekun menjalankan shalat lima waktu.

Kegiatan ibadah itu mendapat perhatian dari masyarakat sekitar, bahkan di antara mereka saling bertanyatanya perihal yang dilakukan oleh Abdul Ghafar. Setelah Abdul Ghafar berhasil beradaptasi dengan masyarakat dan mempelajari bahasa lokal, ia mulai mengajarkan agama Islam kepada masyarakat  termasuk tentang kegiatan ibadah yang ia lakukan setiap hari.

Abdul Ghafar  menjelaskan, dicatat dalam buku tersebut,  bahwa yang dirinya sedang menyembah Allah pencipta langit dan bumi, serta segala isinya.  Penjelasan ini menyentuh dan menggugah  hati penduduk setempat, hingga akhirnya  masyarakat mulai membuka diri untuk  menerima Islam.   Banyak lagi versi yang menceritakan tentang sejarah kedatangan Islam di Nuu Waar.

Namun, dari semua versi itu, para peneliti sejarah sepakat bahwa Islam lah agama yang lebih dulu masuk ke Nuu Waar. Bahkan, dua missionaris Kristen, Ottow dan Geisler, yang datang ke Mansinam (Manokwari) pada tahun 1855 bersama dengan penjajah Belanda.

Apa pengalaman yang paling berkesan bagi Ustadz dan AFKN saat dakwah di Nuu War?

Yang paling tidak lupa, ketika ratusan orang di Nuu Waar dalam satu kampung mengucapkan dua kalimat syahadat setelah diperkenalkan dengan sabun mandi, shampo, dan cara  mandi yang benar. Bayangkan hanya dengan cara itu mereka mengakui Islam sebagai agama benar dan lurus. Makanya, kalau dakwah di Jakarta dan daerah lainnya, saya seringkali menerima bantuan sabun mandi dan shampo untuk kami bawa ke Nuu Waar.

Tak heran kalau banyak orang menyebut saya sebagai dai ‘sabun mandi’.   Yang lainnya, ketika saya masuk ke dalam satu kampung di Nuu Waar. Subhanallah, kepala suku di kampung itu menyambut dengan mengarahkan panah ke arah saya. Bahkan, sejurus kemudian, busur panah itu dilepaskan hingga mengenai ke tangan saya. Tapi,  alhamdulillah, kepala suku itu akhirnya masuk Islam.

Masih ada nggak Stadz masyarakat Nuu War yang pakai koteka?

Iya, faktanya memang masih ada. Sepertinya memang sengaja dilestarikan dengan alasan budaya yang harus dilestarikan. Mohon doanya, insya Allah dengan dakwah yang terus kami lakukan ini mampu mencerahkan masyarakat Nuu Waar dengan nilai-nilai Islam.

Di satu sisi potensi kekayaan alam di Nuu War begitu luar biasa. Tapi di sisi lain banyak masyarakat mengakui Nuu War merupakan wilayah di Indonesia yang paling nggak keurus (terbelakang). Tanggapan Ustadz?

Ini memang satu tantangan tersendiri yang mesti dijawab dengan bahasa dakwah. Otonomi daerah yang dituntut oleh pejabatpejabat hanya dinikmati oleh segelintir orang.  Diperlukan sumber daya yang berkualitas dan amanah dalam mengelola SDA dan SDM di Nuu Waar. Itulah yang menjadi salah satu  fokus dakwah AFKN, yaitu menciptakan  generasi muda Nuu Waar yang memiliki intelektualitas, spiritualitas, dan cinta NKRI. Makanya, kami juga membawa anak-anak dari Nuu Waar untuk disekolahkan di pesantren,  sekolah, dan perguruan tinggi yang ada di pulau Jawa, Sumatera, dan Sulawesi. Mudahmudahan ketika mereka kembali ke Nuu Waar  nanti, akan mampu memecah persoalan di Nuu Waar.

Akhir-akhir ini sepertinya Ustadz sangat gencar ya mensosialisasikan donasi jilbab (hijab)? Gimana hasilnya selama ini?

Sebetulnya tidak hanya di akhir-akhir ini saja, selama saya berdakwah pun selalu mengimbau kepada kaum Muslimin, khususnya para Muslimat yang memiliki kelebihan jilbab agar bisa berbagi dengan para Muslimat yang ada di Nuu Waar. Salah satu dakwah AFKN yang mencerahkan adalah merubah kebiasaan dari tidak berjilbab menjadi berjilbab. Dengan berjilbab mereka nampak lebih rapi dan terlihat anggun, layaknya Muslimat dari Yaman.

Alhamdulillah, banyak umat Islam yang mendukung program ini. Tahun lalu, AFKN mendapat bantuan dari Persatuan Masyarakat Indonesia di Qatar (Permiqa) berupa pakaian dan jilbab sebanyak 4 ton. Namun, barang itu hingga kini masih mangkrak di Pelabuhan Tanjung Priok karena terganjal dalam hal pengurusan. Lalu, belum lama ini juga saya hadir dalam acara Gerakan Seribu Hijab dari Solo untuk Irian. Jika ada kaum Muslimin yang ingin mendonasikan hijab atau jilbab, kami sangat menerima.

baca juga :

Agar Semangat Berdakwah

DAKWAH BIL SOSMEND

 

Masyarakat Nuu War sebenarnya tahu tidak sih Stadz, dengan fenomena privatisasi SDA yang dilakukan pemerintah di wilayahnya?

Sebagian besar masyarakat tahu mengenai hal itu, reaksi mereka pun berbeda-beda. Ada yang diam saja tak tahu melakukan apa, ada juga yang diam-diam mengambil keuntungan, bahkan ada juga yang akhirnya menuntut merdeka (disintegrasi). Sejujurnya memang pembangunan ini tidak berkeadilan. Tapi bagaimana kita menuntut keadilan, kalau secara SDM saja kita masih sangat kurang dan tidak memadai. SDM yang tidak memadai ini juga terjadi karena pendidikan di Nuu Waar masih sangat terbatas. Wallahu’alam.

Tahun ini, bakal diadakan Pemilu. Komentar Ustadz?

Umat Islam di Indonesia sudah beberapa kali mengikuti pemilu. Seharusnya, umat Islam ini bersatu dalam menghadapi pesta rakyat itu, tanpa memperhatikan golongan, partai, atau pun harakah. Semua bersatu, apapun bentuk perjuangan kita, untuk merancang sebuah siyasah Islam. Terkadang kita menginginkan terwujudnya syariat, tapi sikap kita tidak sesuai dengan syariat.

Pesan-pesan untuk D’Riser (pembaca D’Rise)

Jangan pernah berhenti untuk berjuang dalam Islam, serta mengharap pertolongan Allah SWT. Dengan itu kita pasti memenangkan pertarungan antara haq dan bathil. Doakan kami agar tetap istiqamah dalam perjuangan mencerahkan masyarakat Nuu Waar dengan cahaya Islam. Serta, sampaikan kabar gembira tentang Nuu Waar ini kepada kaum Muslimin lainnya. Wallahu’alam bishawab.*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *